BAB dan mulut merupakan suatu bagian dari kesehatan tubuh

BAB
I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Latar
Belakang            Kesehatan
merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Menurut World Health
Organization (WHO) sehat adalah keadaan sejahtera yang meliputi fisik,
mental serta sosial yang bebas dari penyakit atau kecacatan (Maulana, 2009). Salah
satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian dalam masyarakat adalah penyakit
infeksi. Penyakit infeksi biasa menyerang pada negara-negara berkembang seperti
Indonesia. Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme
yang hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop.

Kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu bagian dari
kesehatan tubuh yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh lainnya. Karies gigi merupakan
salah satu penyakit infeksi gigi yang paling sering terjadi di seluruh lapisan
masyarakat, khususnya pada anak. WHO pada tahun 2003 menyatakan bahwa angka kejadian
karies pada anak sebesar 60-90%. Penduduk Indonesia memiliki prevalensi 80%
menderita karies gigi pada balita. Menurut penelitian Taverud (2009), prevalensi
karies gigi pada anak umur 1 tahun sebesar 5%, anak usia 2 tahun sebesar 10%,
anak usia 3 tahun sebesar 40%, anak usia 4 tahun sebesar 55% dan anak usia 5
tahun sebesar 75%. Penyakit karies gigi pada negara-negara berkembang mengalami
peningkatan, terutama pada anak prasekolah. Perubahan keadaan ekonomi dan pola
hidup dapat berpengaruh pada penigkatan penyakit infeksi gigi. Hal ini
dikarenakan karena meningkatnya makanan yang bersifat kariogenik seperti
coklat, gula serta permen yang serig dikonsumsi oleh anak-anak.

            Frekuensi mengonsumsi makanan
kariogenik yang sering dan berulang- ulang dapat menyebabkan pH plak tetap di
bawah normal sehingga terjadi demineralisasi enamel dan pembentukan karies
gigi. Suatu studi mengenai pengaruh konsumsi gula dengan terjadinya karies gigi
dikenal dengan “Studi Vipeholm”. Hasil pada studi ini menunjukkan bahwa semakin
sering mengonsumsi gula dengan kebersihan mulut yang kurang dapat meningkatkan
faktor resiko terkena karies pada individu tersebut. Oleh karena itu,
pentingnya peranan orangtua dalam menjaga asupan makanan oleh anak yang berada
dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Banyak sekali  faktor 
yang dapat  memicu proses  terjadinya 
karies,  yaitu faktor host
(struktur gigi dan saliva),  diet (pola makan), mikroorganisme dan
waktu (Willet  dkk.,  1991). 
Teori  Miller mengatakan  bahwa 
permulaan  karies  disebabkan 
oleh adanya  proses dekalsifikasi  substansi 
keras gigi  karena produk
asam.  Asam adalah sumber aktifitas  bakteri 
yang memfermentasi 
karbohidrat.  Dalam rongga  mulut terdapat
banyak jenis mikroorganisme yang merupakan flora normal,  dan mikroorganisme  ini 
hidup dalam keseimbangan  dengan
hospesnya.

Gigi karies yang tidak terawat akan berdampak buruk pada
gigi yang lainnya. Apabila bakteri atau kuman telah masuk melewati saraf dan
akar gigi dapat menyebabkan peradangan yang akan mengeluarkan nanah ke
permukaan gusi melalui fistula (saluran fistel). Infeksi menahun pada gigi
primer dapat menyebabkan kerusakan gigi permanen dibawahnya. Gigi berlubang
(karies gigi) disebabkan oleh bakteri yang dapat membentuk plak yaitu bakteri
dari genus Streptococcus dan Lactobacillus sp. Streptococcus mutans
berperan pada awal terjadinya karies gigi, sedangkan Lactobacillus sp. berperan saat proses perkembangan dari karies. Spesies
yang dominan pada genus Lactobacillus
sp. adalah Lactobacillus acidophilus.

Antibiotik dipilih untuk pengobatan bakteri-bakteri
tersebut. Tetapi timbul permasalahan baru yaitu resistensi bakteri. Menurut
Pelczar et al., (1988) resistensi
bakteri pada antibiotik merupakan salah satu contoh proses alamiah yang
dilakukan oleh organisme untuk mengembangkan toleransi terhadap keadaan
lingkungan yang baru. Sehingga timbul alternatif untuk menjadikan pengobatan
herbal atau alami sebagai pilihan dalam mengatasi resistensi tersebut.

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari kepulauan
dengan keanekaragaman tumbuhan. Penggunaan bahan alam sebagai obat merupakan
suatu inovasi yang memang telah dilakukan nenek moyang kita sejak
berabad-abad yang lalu. Penggunaan tumbuhan obat dikarenakan adanya kandungan
metabolit sekunder. Salah satu tanaman yang mempunyai
potensi sebagai antimikroba adalah tanaman pare (Momordica charantia). Pare
merupakan tanaman yang mudah ditanam dan tidak tergantung pada musim. Tanaman pare
digunakan sebagai obat tradisional karena mempunyai beberapa khasiat, antara
lain dapat dipakai sebagai obat cacing, obat muntah, dan untuk obat pencahar
(Dharma, 1985).

Daun pare mengandung berbagai jenis metabolit sekunder,
yaitu alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Masing-masing metabolit sekunder
tersebut memiliki potensi pengobatan sebagai antibakteri. Alkaloid  merupakan  senyawa 
organik  yang mempunyai  sifat  antimikroba
yang bekerja melalui  penghambatan sintesis
dinding sel yang akan menyebabkan lisis pada sel sehingga sel akan mati
(Gunawan, 2008). Senyawa metabolit sekunder yang kedua adalah flavonoid
yang memiliki aktivitas  biologis 
dalam menghambat  pertumbuhan  bakteri 
dengan  cara  merusak permeabilitas dinding sel bakteri
(Sabir, 2005). Senyawa metabolit sekunder yang ketiga adalah tanin yang merupakan
turunan fenol. Mekanisme tanin sebagai antimikroba yaitu
dengan  mengganggu  permeabilitas 
sel  itu sendiri.  Akibat 
terganggunya permeabilitas, sel 
tidak dapat melakukan 
aktivitas  hidup, sehingga  pertumbuhannya terhambat dan mati (Ajizah,
2004). Senyawa metabolit sekunder keempat adalah saponin yang terdiri
dari glikosida triterpen dan sterol. Mekanisme saponin
sebagai antimikroba, yaitu dengan 
mengganggu  permeabilitas  membran 
sehingga terjadi hemolisis sel, apabila saponin berinteraksi dengan sel bakteri,  maka bakteri 
tersebut akan pecah atau lisis (Poeloengan dkk, 2010).

Maka untuk mengetahui manfaat daun pare dalam
mengatasi kerusakan gigi mendorong peneliti untuk menguji aktivitas antimikroba
dan membuktikan kandungan senyawa kimia tanaman pare yang mempunyai khasiat
sebagai antimikroba terhadap bakteri Lactobacillus acidophilus sehingga
bermanfaat bagi perkembangan pengobatan penyakit karies gigi di Indonesia. Mengacu
kepada daya antibakteri yang dimiliki oleh daun pare, maka penelitian ini
dikembangkan.

 

Rumusan MasalahBerdasarkan
latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diuraikan adalah sebagai
berikut: 

Apakah ekstrak daun pare (Momordica charantia) memiliki aktivitas
antimikroba terhadap bakteri Lactobacillus
acidophilus?Berapa nilai Konsentrasi
Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak daun pare
(Momordica charantia) terhadap
bakteri Lactobacillus acidophilus?Bagaimana mekanisme kerja
antimikroba ekstrak etanol daun pare terhadap bakteri Lactobacillus acidophilus? 

Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini adalah :

Mengetahui aktivitas
antimikroba dari ekstrak etanol daun pare (Momordica
charantia) terhadap bakteri Lactobacillus
acidophilus.Mengetahui nilai Konsentrasi
Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak daun pare
(Momordica charantia) terhadap
bakteri Lactobacillus acidophilus.Mengetahui mekanisme kerja antimikroba
ekstrak etanol daun pare terhadap bakteri Lactobacillus
acidophilus 

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini yaitu memberikan
informasi ilmiah pemanfaatan daun pare sebagai antimikroba terhadap bakteri Lactobacillus acidophilus. Selain itu,
penelitian ini juga diharapkan akan memberikan informasi dan pengetahuan dalam
pengembangan obat-obat dari bahan alam.